Bima berdarah, siapa tanggung jawab?

BIMA BERDARAH, SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB ?

 

Lokasitable » tbody » tr » td » p

JAKARTA – Insiden berdarah terjadi di Kabupaten Bima di Sumbawa, Sabtu 24 Desember lalu, yang menurut laporan telah menewaskan dua warga setempat karena ditembak aparat kepolisian. Insiden bentrok antar polisi dengan warga yang bermula saat warga memblokir Pelabuhan Sape, telah mendapat perhatian para petinggi negara.

Sejumlah kalangan mengecam aksi brutal yang dilaporkan dilakukan oleh polisi, meski menurut Markas Besar Kepolisian RI, tewasnya dua orang itu belum bisa dipastikan berasal dari senjata milik kepolisian.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah meminta Kepala Polri, Jenderal Timur Pradopo segera melakukan investigasi yang mendalam. “Kita tunggu informasi dari polisi (laporan terbarunya),” kata Jurubicara Kepresidenan, Julian Adrian Pasha, yang mengatakan Kepala Negara mminta polisi segera memproses anggotanya jika terbukti melakukan kesalahan prosedur pengamanan dalam aksi itu.

Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Adhie Massardi, turut mengecam aksi itu dan mendesak seluruh jajaran kepolisian dari tingkat Polres, Polda dan Polri harus meminta maaf atas kejadian di Bima.

Komnas HAM atau Komisi Nasional Hak Asasi Manusia diminta menyelidiki kasus itu, karena diduga dilakukan secara sistemik. Adhie meminta Presiden SBY untuk tidak segan-segan mencopot Kapolri jika kemudian diketahui adanya kesalahan dan ada instruksi dari pemerintah pusat. “Kapolda dan Kapolres juga harus dinonaktifkan terlebih dahulu, kalau kemudian terbukti baru bisa dilakukan pemecatan,” katanya tadi malam.

Wakil Ketua MPR-RI, Hadjriyanto Thohari, tadi malam juga meminta tanggung jawab Kepala Polri atas insiden ini. “Kami menuntut tanggung jawab institusi Polri sampai tingkat Kapolri,” katanya.

Seharusnya Polri bekerja untuk melindungi dan mengayomi masyarakat, bukan malah mencelakai masyarakat. Tindakan polisi menembak para pemuda dan mahasiswa yang berunjuk rasa dinilai melecehkan UUD 1945, katanya. “Langkah polisi membubarkan paksa unjuk rasa hingga menembaki para pengunjuk rasa dianggap memalukan, karena terjadi di era demokrasi. Penembakan itu merupakan bukti bahwa Polri masih menjadi alat kekuasaan sekaligus pemodal besar. Polri hanya melindungi pemodal besar, bukan masyarakat,” Hadjriyanto menegaskan.

Selain itu, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menyatakan akan meminta penjelasan Jenderal Timur Pradopo. “Penembakan itu diyakini dilakukan aparat keamanan yang tengah membubarkan para pengunjuk rasa yang menutup alur ke pintu masuk Pelabuhan Sape,” kata anggota Komisi Hukum dan Hak Asasi Manusia DPR, Bambang Soesatyo.

Wakil Ketua Komisi III DPR, Nasir Jamil, sebelumnya mengatakan, dirinya heran dengan peran kepolisian dalam peristiwa itu, yang mengaku tidak habis pikir polisi kembali melakukan aksi represif terhadap pengunjuk rasa di daerah tersebut. “Dan saya heran kok polisi tidak pernah belajar dari pengalaman buruk yang selama ini mereka lakukan terhadap warga. Dan ini sangat merugikan Polri dan keinginan agar Polri di bawah kementerian akan semakin menguat,” kata Nasir.

Kepala Polri, sementara itu, langsung mengirim Kepala Bareskrim Mabes Polri, Komisaris Jenderal Sutarman, untuk turun langsung ke lapangan dan memimpin penyelidikan di Nusa Tenggara Barat itu. “Tim akan dilengkapi pengawas internal untuk mencari informasi apakah penanganan unjuk rasa sudah sesuai prosedur atau belum,” jelas Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution.

Insiden berdarah itu terjadi ketika warga memblokir Pelabuhan Sape di Bima sebagai protes kepada Bupati. Mereka meminta Bupati Bima mencabut SK Nomor 188/45/357/004 tahun 2010 tentang izin eksplorasi penambangan emas PT Sumber Mineral Nusantara di Bima. Namun pihak pemerintah daerah bergeming.

Mereka menuntut Pemerintah Bima mencabut izin eksplorasi penambangan emas di wilayah itu. Akibatnya, dua orang warga tewas karena menurut laporan, aparat kepolisian membubarkan paksa demonstrasi sehingga berakhir ricuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s