Mahluk Hidup Pertama Di Bumi Mungkin Hidup Di luar Angkasa

Bentuk kehidupan yang pertama kali ada di Bumi mungkin bukan terbentuk di air yang menggenang di permukaan, melainkan melayang-layang di angkasa. Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature menemukan bahwa sejak sekitar 1,2 milyar tahun silam, atmosfer Bumi telah mengandung cukup oksigen sehingga mampu mendukung bentuk-bentuk kehidupan yang kompleks.

Bukti bagi penelitian ini diperoleh dari sedimen purba di Skotlandia. Pada batuan tersebut, ditemukan bakteri yang memanfaatkan oksigen untuk menghasilkan energi dan tetap hidup hingga 1,2 milyar tahun silam.

Kemungkinan tersebut semakin terbuka setelah sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Universitas Arizona menemukan bahwa molekul-molekul organik yang kompleks, termasuk asam-asam amino (amino acids) dan nucleotide bases, yang merupakan unsur kehidupan paling penting di Bumi, bisa terbentuk di atmosfer bagian atas yang berkabut pada Titan, bulan terbesar Saturnus.

Reaksi yang sama bisa saja terjadi di atmosfer Bumi. Lima nucleotide bases yang ditemukan di Titan juga bisa ditemukan di Bumi. Kelima bases ini digunakan oleh kehidupan di Bumi untuk membangun bahan-bahan genetis DNA dan RAN, yaitu cytosine, adenine, thymine, guanine, dan uracil. Asam amino yang ditemukan adalah gylcine dan alanine. Asam amino adalah partikel yang membentuk protein.

Bumi dan Titan memang tidak sama. Titan jauh lebih dingin, dengan suhu rata-rata di permukaannya hanya -179 derajat celcius. Walaupun demikian, Titan dan Bumi sama-sama memiliki atmosfer yang tebal dan kaya nitrogen. Ilmuwan menduga, pada masa lalu atmosfer di Bumi mirip dengan atmosfer di Titan sekarang. Jadi, memang terbuka kemungkinan bahwa reaksi kimia di angkasa Bumi bisa juga terjadi di angkasa Titan.

Teori yang paling populer saat ini tentang asal mula kehidupan di Bumi adalah primordial-soup theory (Teoru Kuah Purba). Menurut teori ini, kehidupan di Bumi berasal dari air. Molekul-molekul kompleks yang bergentayangan di samudera purba terpecah dan bersenyawa lagi berkali-kali oleh adanya energi kejutan yang besar di seluruh samudera – mungkin energi petir. Reaksi-reaksi ini selanjutnya melahirkan molekul-molekul yang lebih kompleks: kehidupan.

Akan tetapi penelitian oleh tim dari University of Arizona tersebut mengungkapkan ikubator kehidupan yang lain, yaitu atmosfer Bumi bagian atas. Molekul-molekul besar dan kompleks, yang sebagian mengandung 1000 atom karbon, diketahui ada di atmosfer Titan. Molekul-molekul serupa mungkin juga ada di Bumi dan bisa mengawali reaksi-reaksi kimia lanjutan. Energi kejutan bisa saja berasal dari radiasi Matahari. Lagipula, atmosfer Bumi telah mengandung cukup oksigen sejak sekitar 1,2 milyar tahun silam.

Di mana pun kehidupan pertama kali muncul di Bumi ini, organisme primordial Bumi tentu masih sangat sederhana dan tetap demikian hingga sangat lama. Ilmuwan menduga, kehidupan baru muncul sekitar 3,8 juta tahun silam tetapi tidak berwujud organisme yang kompleks dan multiseluler (bersel banyak) hingga kadar oksigen di atmosfer Bumi meningkat pesat. Sebelumnya, ilmuwan percaya bahwa kadar oksigen baru meninggi sekitar 800 juta tahun silam.

Namun, seperti yang diperlihatkan oleh penelitian terbaru di jurnal Nature, kehidupan di Bumi mungkin bermula jauh lebih awal.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s